Home Pendidikan Fenomena Banjir, Akademisi Desak Pemda dan BWSS Sinergi Atasi Bencana

Fenomena Banjir, Akademisi Desak Pemda dan BWSS Sinergi Atasi Bencana

24
0
SHARE

Palu, Alkhairaat.com  – Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) Palu menyelenggarakan kegiatan diskusi terbatas tentang banjir yang melanda beberapa daerah di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) dengan mengahadirkan sejumlah narasumber di ruang Senat, Senin (01/08/2022).

Narasumber yang hadir, Guru Besar  Teknik Sipil dan Pengamat Banjir Prof. Galib Ishak, Guru Besar Teknik Sipil Prof. Wayan Sutapa, Dekan Fakultas Teknik Untad, Dr. Andi Rusdin,  Ketua KDK Keairan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Untad, Dr. Sance Lipu, dan Kepala Laboratorium Hidrolika Jurusan Teknik Sipil Untad, Dr. Alifi Yunar.

Dalam diskusi tersebut, Sance lipu menjelaskan tentang fenomena banjir yang melanda kecamatan Lampasio di Kabupten Tolitoli, Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong, Huntap Tondo, Kota Palu, dan beberapa daerah di Sulteng akibat intensitas hujan yang tinggi.

“Kemiringan lereng,  struktur tanah yang jenuh dengan air pelimpasan, dan perubahan tata guna lahan,” tutur Sance Lipu.

Sementara, Dekan Fakultas Teknik Untad, Andi Rusdin mengungkapkan bahwa Untad siap memberikan masukan sesuai Tridarma perguruan tinggi, termasuk masalah banjir, beberapa akademisi sesuai keahlianya, memberikan konstribui bidang hidrologi dan hidrolika dengan  leading sektor adalah pemerintah daerah (pemda) untuk   membantu mencari solusi.

“Fakultas Teknik siap kerja sama dengan Pemda baik Provinsi, Kabupaten, dan Kota Palu,” katanya.

Pada kesemparan itu, Prof. Galib memaparkan konsen pada penelitian  tentang banjir di Sulteng. Dari sisi aturan, semua sudah terwadahi pada Rencana Tata Ruang (RTR), baik RTURK Kota Palu maupun RTRW Provinsi Sulteng. Master plan drainase Kota Palu, dan Perda tentang sempadan sungai. Maka perlu di cari benang merahnya tentang perubahan tata guna lahan. Kewenangan perlu selektif tentang izin penggunaan lahan dengan kewenangan termasuk penanganan sempadan sungai, dan bangunan baru harus di kendalikan.

“Dan pemerintah lebih mengedukasi masyarakat berupa sosialisai tentang bangunan di sempadan sungai,” tandasnya.

Menurut Prof. Galib yang juga Koordinator Program Studi Doktoral Teknik Sipil bahwa karakteristik sungai yang berada di kota Palu adalah sungai tadah hujan, dengan infiltrasi agak besar dengan lebar di hulu dan kecil. Di hilir ini perlu penanganan dan rekayasa, karena ketika tiba waktu hujan dengan intensitas tinggi dengan debit besar, maka mengakibatkan banjir seperti yang terjadi sekarang ini.

Prof. Galib juga menyarankan kepada pemerintah untuk segera membentuk Satgas Banjir untuk mengantisipasi bencana banjir. Ke depannya dengan mengintegrasikan kewenangan antara pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan kota serta Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) XIV Palu.

“Karena DAS Kota Palu meliputi Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong,” jelas Prof. Galib.

Selain itu, dalam presfektif lain Guru Besar Teknik Sipil, Wayan Sutapa menjelaskan fenomena banjir ini terjadi bukanya hanya di Sulteng, tapi terjadi di seluruh dunia terutama di Sulteng. Pemanasan global atau global warming  adanya proses peningkatan suhu rata – rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Kondisi sekarang tidak ada batas musim kemarau dan musi hujan, perubahan iklim menjadi tantangan akademisi di Fakultas Teknik Untad untuk memberi solusi kepada pemerintah. Solusi menurukan emisi karbon  sangat sederhana.

“Masyarakat harus gemar menanam dengan memanfaaatkan lahan yang tersedia,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, Alifi Yunar selaku kepala Laboratorium Hidrolika menyahuti beberapa pemikiran narasumber sebelumnya, dengan mengajak dan memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) yang ada, serta terlibat langsung sebagai problem solving di dalam kegiatan riset, kemudian berharap fakultas menjadi rujukan dan solusi menghadapi banjir di Sulteng.

Khusus banjir di Huntap Tondo, kata dia, akademisi  Fakultas Teknik Untad siap menyiasati dengan dua bidang kegiatan, penelitian tekonologi yang paling tepat dengan topografi yang berada di Huntap Tondo yang cukup curam.

“Riset – riset yang bisa diimplementasikan oleh stakholder dan mengkaji kembali   road map tentang pencegahan banjir di Sulawesi Tengah,” tutur Alifi Yunar.

Kegiatan Pengabdian lanjut dia, kolaborasi dengan pemerintah daerah sebagai leading sektor yang menangani Huntap Tondo, demi kenyamanan masyarakat di Sulteng. (BOB)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.