Home Bertia Terkini Dosen FTIK UIN Datokarama Palu Jawab Tantangan Krisis Energi dengan Mengelola Sampah...

Dosen FTIK UIN Datokarama Palu Jawab Tantangan Krisis Energi dengan Mengelola Sampah Organik

199
0
SHARE

Oleh: Athif Muhyiddin Hishad: Solusi Baru untuk Dampak Krisis Energi dalam Negeri

Krisis energi global yang dipicu dinamika geopolitik di Timur Tengah—termasuk ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel—tidak lagi menjadi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dampaknya terasa hingga ke daerah, termasuk di Palu, dalam bentuk kenaikan harga energi dan tekanan terhadap sektor ekonomi kecil.

Namun, jika dilihat lebih dekat, Palu sebenarnya tidak hanya berada pada posisi terdampak, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menjadi bagian dari solusi. Salah satu kunci pentingnya terletak pada persoalan yang selama ini dianggap beban: sampah. Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa produksi sampah di Palu mencapai sekitar 79 ribu ton per tahun, dengan lebih dari separuhnya merupakan sampah organik. Dalam konteks energi, angka ini menyimpan potensi besar sebagai bahan baku bioenergi.

Pemerintah Kota Palu di bawah kepemimpinan Hadianto Rasyid dalam beberapa tahun terakhir mulai menaruh perhatian serius pada pengelolaan sampah. Program pengurangan dan pemanfaatan sampah terus didorong, baik melalui penguatan bank sampah, edukasi masyarakat, maupun pengembangan sistem pengolahan berbasis komunitas. Fokusnya tidak lagi sekadar mengangkut dan membuang, tetapi mulai bergeser ke arah pengolahan dan pemanfaatan.

Di tengah upaya tersebut, muncul praktik baik dari kalangan akademisi. Muhammad Sadig bersama mahasiswa di UIN Datokarama Palu mengembangkan model pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot. Pendekatan ini bekerja dengan memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly untuk mengurai sampah organik secara cepat dan efisien.

Hasilnya tidak hanya berhenti pada pengurangan volume sampah. Maggot yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi sebagai pakan ternak berprotein tinggi, sementara sisa penguraiannya menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan petani lokal. Dalam skala lebih luas, sistem ini membuka peluang pengembangan energi alternatif seperti biogas dari limbah organik yang terkelola.

Jika ditarik ke dalam konteks krisis energi, pendekatan ini menunjukkan arah yang konkret: memanfaatkan sumber daya lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis impor. Palu, dengan volume sampah organik yang besar, berpotensi mengembangkan ekosistem bioenergi berbasis masyarakat, mulai dari skala rumah tangga hingga komunal.

Meski demikian, tantangan integrasi masih menjadi pekerjaan rumah. Inisiatif yang telah berjalan di tingkat komunitas dan kampus belum sepenuhnya terhubung secara sistematis dengan kebijakan pemerintah daerah. Padahal, jika kolaborasi ini diperkuat—misalnya melalui dukungan regulasi, pendanaan, dan perluasan program—maka dampaknya tidak hanya pada pengurangan sampah, tetapi juga pada ketahanan energi dan ekonomi lokal.

Langkah yang sedang ditempuh oleh Pemerintah Kota Palu menunjukkan arah yang positif, tetapi masih membutuhkan percepatan dan keberanian untuk menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari strategi energi daerah. Di sisi lain, inovasi yang digagas oleh akademisi seperti Muhammad Sadig membuktikan bahwa solusi tidak harus menunggu teknologi besar—ia bisa dimulai dari hal sederhana, selama dikelola secara konsisten dan kolaboratif.

Dalam situasi krisis seperti sekarang, daerah seperti Palu justru memiliki peluang untuk melompat lebih jauh. Bukan hanya sebagai kota yang mampu mengatasi masalah sampah, tetapi juga sebagai contoh bagaimana sumber daya lokal dapat diolah menjadi fondasi kemandirian energi di masa depan.(MTG)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.