Home Politik Deklarasi Alumni UIN Bersatu Gaungkan Tolak Hoaks, Politisasi Agama dan Dinasti Cendana

Deklarasi Alumni UIN Bersatu Gaungkan Tolak Hoaks, Politisasi Agama dan Dinasti Cendana

236
0
SHARE

Jakarta, Alkhairaat.com – Dalam acara Stand Up Politik dan Deklarasi Alumni UIN Bersatu menggaungkan empat tekad bersama yaitu, tidak akan memproduksi membuat, dan menyebarkan informasi hoaks kepada masyarakat, siap melawan setiap informasi hoaks yang beredar di masyarakat, menolak upaya politisasi agama, dan melawan setiap upaya, kebangkitan orde baru melalui Dinasti Cendana.

Koordinator Syukri Rahmatullah dihadapan sekira 300 peserta Deklarasi menyebutkan mereka akan menggalang persatuan UIN se- Nusantara atas sikap yang sama menolak Hoaks, Politisasi Agama dan Dinasti Cendana.

“Deklarasi ini bukan akhir, tapi awal perjuangan kami. Setelah ini, kami akan menggalang UIN se-Indonesia yang memiliki sikap yang sama,” tegasnya, di Fifo Resto, Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (01/19/ 2019).

Syukri menuturkan, saat ini hoaks tidak hanya menimpa masyarakat, tapi juga menyerang pemimpin negeri ini seperti Jokowi dan juga Ketua MUI (non aktif) KH Maruf yang kerap menjadi korban hoaks dari pihak-pihak memiliki nafsu berkuasa dan tidak bertanggung jawab.

Dalam Stand Up Politik hadir sejumlah tokoh muda nasional dari UIN Syahid Jakarta, di antaranya Ray Rangkuti (aktivis 1998), Neng Dara Afifah (mantan komisioner Komnas Perempuan), Rumadi Ahmad (Ketua Lakpesdam), dan Rahmad Jaelani Kiki (aktivis 1998 dan penulis buku Genealogi Intelektual ulama Betawi).

Dikesempatan yang sama, pengamat politik Ray Rangkuti menceritakan bagaimana UIN Jakarta pada tahun 1998 lalu, menjadi kampus pertama yang berhasil masuk dan menduduki Gedung DPR, hingga jatuhnya Soeharto pada 21 Mei 1998.

Kata Ray, gerakan Mahasisa UIN yang ikut meruntuhkan rezim Orde Baru, dengan melakukan Shalawat Badar, seperti Shalawat yang digunakan Para Kiyai untuk mengusir penjajah.

“Ketika masuk gedung DPR, kami membacakan shalawat Badar. Beberapa tahun kemudian, saat tengah bersama almarhum KH Hasyim Muzadi, beliau mengatakan bahwa Shalawat Badar itu adalah shalawat para kyai saat mengusir penjajah. Pantesan Pak Harto gemetar hingga mengundurkan diri, karena ada mahasiswa yang membacakan shalawat Badar, dan itu adalah mahasiswa UIN,” urainya. (SUP).

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.